Masih ingat peristiwa tsunami yang meratakan dan menewaskan 240.000 orang di bumi Nangroe Aceh Darussalam dan 173.000 orang di Sumatera Utara pada tanggal 26 Desember 2004? Hanya beberapa saat, peristiwa itu diketahui sebagian besar rakyat Indonesia. Berbagai tayangan televisi dan tulisan di media cetak melukiskan kedahsyatan, kesedihan dan kepanikan warga sesudah peristiwa tersebut.
Tentu masih ingat juga polemik yang terjadi di tubuh kepolisian? Pemicunya, Mayjen Pol Susno Duaji, mantan Kabereskim Mabes Polri itu bicara blak-blakan tentang keburukan di tubuh institusi yang selama ini menjadi tempat pengabdian Susno. Polemik itu berubah menjadi perseteruan Susno dengan para perwira tinggi (Pati), termasuk dengan Kapolri.
Masyarakat disuguhkan informasi-informasi yang "mengagetkan" tentang sepak terjang para penegak hukum di kepolisian. Dan, lebih mencengangkan lagi, Mahkamah Konstitusi (MK) pun memuar rekaman pembicaraan suara yang diduga suara Anggodo dengan berbagai pihak di lingkungan kepolisian. Sejumlah nama pejabat disebut, termasuk nama SBY. Maka informasi itu merebak ke seantero negeri setelah media televisi menayangkan langsung (live) pemutaran rekaman tersebut.
Penyebaran informasi yang begitu cepat dan meluas itu bukan hanya peristiwa-peristiwa besar semacam tsunami dan perseteruan Komjen Pol Susno Duaji dengan sejumlah perwira tinggi di lingkungan kepolisian. Rekaman video tak senonoh yang diupload ke sebuah situs pun menjadi sorotan, setelah video itu menjadi bahan pembicara di situs jejaring sosial. Pemeran video itu mirip penyanyi terkenal dan selebritis.
Kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) dan kebutuhan sehari-hari lainnya tentu saja tidak akan menarik perhatian para pengambil kebijakan di pemerintahan jika media tidak gencar menuliskan dan menayangkan di televisi soal tersebut. Televisi dengan kelebihannya menayangkan video atau gambar-gambar yang melukiskan kepanikan ibu-ibu rumah tangga menghadapi kenaikan harga yang diistilahkan melonjak atau naik drastis. Sedangkan media cetak secara rinci menyebutkan kebutuhan apa saja yang mengalami kenaikan dan mencarikan penyebabnya.
Hal yang sama terjadi pada ledakan tabung gas elpiji ukuran 3 Kg. Peristiwa ledakan demi ledakan berserta kerugian harta dan jiwa terus dilansir media. Padahal program tabung gas elpiji ukuran 3 Kg merupakan program konversi dari pemerintah yang bertujuan mengalihkan penggunaan minyak tanah ke gas. Ketika kerugian harta dan jiwa akibat ledakan tabung gas itu semakin merata, pengambil kebijakan di pemerintahan baru terusik. Sayangnya, itu dalih-dalih yang dikemukakan para pejabat pun menyebabkan masyarakat kecewa dan berkeinginan kembali menggunakan bahan bakar minyak tanah karena dirasakan aman.
Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita selalu ingin tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Contohnya, ingin tahu apa yang terjadi dengan tetangga. Ada yang tengah bahagia karena kelahiran anaknya, ada juga yang bersedih karena terkena musibah. Atau sekadar ingin tahu apakah lingkungan sekitar kita memang aman.
Seorang anak kecil juga seringkali bertanya pada ibunya. "Mamah darimana?". Jawabannya bermacam-macam tentunya. Ada yang mengatakan pulang dari bertandang ke tetangga, pulang dari pasar atau menjenguk saudara sakit. Semua jawaban itu memberitahukan keadaan yang terbaru, tetapi dalam kondisi yang sudah lalu atau sedang dilakoni. Jika si anak bertanya melalu pesawat telepon genggam, jawaban si ibu memang sedang menjalani kondisi dari jawaban itu.
Peristiwa tsunami, perseteruan di tubuh kepolisian, pemutaran rekaman di MK, kenaikan harga sembako, kondisi tetangga, pertanyaan si anak kecil pada ibu dan sebagainya -- semua itu memberitahukan atau menginformasikan sesuatu yang terbaru. Informasi itu berisi fakta-fakta.
Pertanyaannya apakah jawaban si ibu terhadap anaknya dan kenaikan harga sembako di pasar bisa dikatagorikan berita? Berita pada dasarnya berisi informasi tentang kondisi atau keadaan dalam suatu ruang dan waku. Berarti jawaban si ibu pada anaknya semisal "ibu pulang dari pasar". Kalimat itu berisi informasi tentan si ibu yang baru datang dari pasar. Kalimat itu sama beisi informasi seperti "Harga gula pasir naik dari Rp 7.000 per Kg menjadi Rp 9.000 per Kg". Kalimat itu sama berisi informasi tentang kenaikan harga.
Tentu saja yang akan dibahas di sini bukan berita dalam pengertian seperti yang ditanyakan si anak kecil kepada ibunya yang baru pulang dari pasar. Pembahasannya adalah berita yang sesuai dengan kaidah jurnalistik. Lalu, seperti apa definisi berita itu?
Tentu saja yang akan dibahas di sini bukan berita dalam pengertian seperti yang ditanyakan si anak kecil kepada ibunya yang baru pulang dari pasar. Pembahasannya adalah berita yang sesuai dengan kaidah jurnalistik. Lalu, seperti apa definisi berita itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar