Sabtu, 21 Agustus 2010

Perbedaan Berita Percakapan dan Karya Jurnalistik

Mari mempertegas paparan dalam posting Pengantar Berita. Dalam posting sebelumnya dicoba digambarkan perbedaan antara berita atau pemberitahuan dalam percakapan sehari-hari dengan berita yang dikatagorikan sebagai karya jurnalistik. 

Dalam percakapan sehari-hari memang terdapat unsur berita atau pemberitahuan tentang sebuah kejadian. Cermati percakapan ini. Sejumlah orang sedang berkumpul dalam sebuah pos ronda di perumahan. "Sewatu saya pulang dari kantor, tadi ada kecelakaan di jalan tol. Sepertinya mobil angkutan umum nabrak truk di depannya. Uh, macetnya lama sekali. Saya jadi kemalan sampe di rumah," kata Amri, seorang ayah yang tinggal di perumahan tersebut."Ada korban tewas Pak," kata lelaki lainnya. "Saya kurang melihatnya, tetapi banyak pecahan kaca dan darah berceceran di pinggir tol itu," kata Amri.

Dalam percakapan itu jelas terkandung pemberitahuan atau berita tetang kecelakaan di jalan tol. Pertanyaannya apakah pemberitahuan itu merupakan sebuah berita yang dimaksudkan dalam karya jurnalistik? Tetapi jika dalam kumpulan orang itu ada seorang jurnalis, maka percakapan itu menjadi sumber awal tentang kejadian. Maka nalurinya akan mendorong dia untuk segera bertindak seperti berangkat, ke lokasi kejadian mencek sejumlah sumber dan menanyakan kebenarannya. Jika ternyata memang ada, maka dia mengumpulkan keterangan, data dan informasi lainnya.Terakhir dia akan menulis peristiwa itu menjadi sebuah berita sebagai karya jurnalistik. Cermati contoh ini;



Serang - Kepolisian Resor (Polres) Serang menangkap 6 penjahat yang mengaku anggota polisi dari Polda Metro Jaya setelah merampok Iswara, pegawai Kementrian Pendidikan Nasional yang tinggal di Cikande, Kabupaten Serang. Selain merampas mobil Inova dan uang Rp 30 juta, pelaku menyiksa korban dengan setrum alat kejut.


Serang - Kepolisian Daerah (Polda) Banten masih memeriksa secara intensif 3 orang warga negara Indonesia (WNI) yang diduga kuat membantu 58 imigran ilegal asal Afghanistan yang akan menyebeang ke Australia melalui Pantai Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Ketiga WNI itu didakwa melanggar pasal 54 Undang-undang No 9 tahun 1992 tentang keimigrasian.

Contoh berita dalam percakapan dengan berita dalam karya jurnalistik di atas mempertegas perbedaan di antara keduanya. Bahwa dalam percakapan tidak memiliki struktur, tetapi berita sebagai karya jurnalistik dituturkan dalam sebuah sruktur, runut dan menggunakan kalimat yang baku.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Pengantar Berita

Masih ingat peristiwa tsunami yang meratakan dan menewaskan 240.000 orang di bumi Nangroe Aceh Darussalam dan 173.000 orang di Sumatera Utara pada tanggal 26 Desember 2004? Hanya beberapa saat, peristiwa itu diketahui sebagian besar rakyat Indonesia. Berbagai tayangan televisi dan tulisan di media cetak melukiskan kedahsyatan, kesedihan dan kepanikan warga sesudah peristiwa tersebut.

Tentu masih ingat juga polemik yang terjadi di tubuh kepolisian? Pemicunya, Mayjen Pol Susno Duaji, mantan Kabereskim Mabes Polri itu bicara blak-blakan tentang keburukan di tubuh institusi yang selama ini menjadi tempat pengabdian Susno. Polemik itu berubah menjadi perseteruan Susno dengan para perwira tinggi (Pati), termasuk dengan Kapolri.

Masyarakat disuguhkan informasi-informasi yang "mengagetkan" tentang sepak terjang para penegak hukum di kepolisian. Dan, lebih mencengangkan lagi, Mahkamah Konstitusi (MK) pun memuar rekaman pembicaraan suara yang diduga suara Anggodo dengan berbagai pihak di lingkungan kepolisian. Sejumlah nama pejabat disebut, termasuk nama SBY. Maka informasi itu merebak ke seantero negeri setelah media televisi menayangkan langsung (live) pemutaran rekaman tersebut.

Penyebaran informasi yang begitu cepat dan meluas itu bukan hanya peristiwa-peristiwa besar semacam tsunami dan perseteruan Komjen Pol Susno Duaji dengan sejumlah perwira tinggi di lingkungan kepolisian. Rekaman video tak senonoh yang diupload ke sebuah situs pun menjadi sorotan, setelah video itu menjadi bahan pembicara di situs jejaring sosial. Pemeran video itu mirip penyanyi terkenal dan selebritis.

Kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) dan kebutuhan sehari-hari lainnya tentu saja tidak akan menarik perhatian para pengambil kebijakan di pemerintahan jika media tidak gencar menuliskan dan menayangkan di televisi soal tersebut. Televisi dengan kelebihannya menayangkan video atau gambar-gambar yang melukiskan kepanikan ibu-ibu rumah tangga menghadapi kenaikan harga yang diistilahkan melonjak atau naik drastis. Sedangkan media cetak secara rinci menyebutkan kebutuhan apa saja yang mengalami kenaikan dan mencarikan penyebabnya.

Hal yang sama terjadi pada ledakan tabung gas elpiji ukuran 3 Kg. Peristiwa ledakan demi ledakan berserta kerugian harta dan jiwa terus dilansir media. Padahal program tabung gas elpiji ukuran 3 Kg merupakan program konversi dari pemerintah yang bertujuan mengalihkan penggunaan minyak tanah ke gas. Ketika kerugian harta dan jiwa akibat ledakan tabung gas itu semakin merata, pengambil kebijakan di pemerintahan baru terusik. Sayangnya, itu dalih-dalih yang dikemukakan para pejabat pun menyebabkan masyarakat kecewa dan berkeinginan kembali menggunakan bahan bakar minyak tanah karena dirasakan aman.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita selalu ingin tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Contohnya, ingin tahu apa yang terjadi dengan tetangga. Ada yang tengah bahagia karena kelahiran anaknya, ada juga yang bersedih karena terkena musibah. Atau sekadar ingin tahu apakah lingkungan sekitar kita memang aman.

Seorang anak kecil juga seringkali bertanya pada ibunya. "Mamah darimana?". Jawabannya bermacam-macam tentunya. Ada yang mengatakan pulang dari bertandang ke tetangga, pulang dari pasar atau menjenguk saudara sakit. Semua jawaban itu memberitahukan keadaan yang terbaru, tetapi dalam kondisi yang sudah lalu atau sedang dilakoni. Jika si anak bertanya melalu pesawat telepon genggam, jawaban si ibu memang sedang menjalani kondisi dari jawaban itu.

Peristiwa tsunami, perseteruan di tubuh kepolisian, pemutaran rekaman di MK,  kenaikan harga sembako, kondisi tetangga, pertanyaan si anak kecil pada ibu dan sebagainya -- semua itu memberitahukan atau menginformasikan sesuatu yang terbaru.   Informasi itu berisi fakta-fakta.

Pertanyaannya apakah jawaban si ibu terhadap anaknya dan kenaikan harga sembako di pasar bisa dikatagorikan berita? Berita pada dasarnya berisi informasi tentang kondisi atau keadaan dalam suatu ruang dan waku.  Berarti jawaban si ibu pada anaknya semisal "ibu pulang dari pasar". Kalimat itu berisi informasi tentan si ibu yang baru datang dari pasar. Kalimat itu sama beisi informasi seperti "Harga gula pasir naik dari Rp 7.000 per Kg menjadi Rp 9.000 per Kg". Kalimat itu sama berisi informasi tentang kenaikan harga.


Tentu saja yang akan dibahas di sini bukan berita dalam pengertian seperti yang ditanyakan si anak kecil kepada ibunya yang baru pulang dari pasar. Pembahasannya adalah berita yang sesuai dengan kaidah jurnalistik. Lalu, seperti apa definisi berita itu?